Rini Clara di Facebook
- DOLOROSA SINAGA (2) -
“Seni membuat orang menjadi cerdas, produktif, baik pikiran, tangan dan jiwa.”
Bagi Dolorosa Sinaga yang menjadi pematung profesional setelah menamatkan rangkaian kuliahnya – IKJ (1977), St. Martin’s School of Art, London (1983), University of Berkeley, Amerika (1985) – ini, semua momen ketika membuat patung menjadi tantangan dan pengalaman yang sangat menyenangkan.
“Seni membuat orang menjadi cerdas, produktif, baik pikiran, tangan dan jiwa. Contohnya, ketika membawa kawan ke ruang pamer yang sama sekali tidak pernah terekspos pada dunia kreativitas, dia tiba-tiba mind-nya menjadi produktif. Mencoba mencari asosiasi atau bentuk. Kalau anak diajar sejak dini, anak kecil itu mengenal kebebasan dan kemerdekaan sejak dini. Ketika dia mecipta, itulah kita mempertaruhkan daya imajinasi dan daya kreatif,” jelas Dolo yang mengaku tak punya tokoh idola ini. “Tapi yang punya andil membantu cara aku berpikir adalah Marcell Ducel.”
Pembuat tropi Swardi Tasrif (Kuli Tinta, 1985) untuk pejuang kebebasan pers yang diberikan Aliansi Jurnal Independen, torpi Yap Thiam Hien (Resistance, 1985) bagi pejuang HAM yang diberikan YAPUSHAM ini, menambahkan bahwa membangun manusia tidak hanya potensi berpikir pada angka atau yang lainnya.
“Itulah yang membuat aku bertahan akan tetap mengajar dan tetap bekerja sebagai seniman,” tegas pengajar mata kuliah anatomi, figure drawing, gambar bebas dan tinjauan seni murni di Fakultas Seni Rupa IKJ sejak 1984 ini.
Belakangan malah banyak karya anak-anak muda yang disebut sangat kuat aura ‘Doloisme’nya. “Mungkin mereka tertarik karyaku. Mereka melihat hal-hal yang bisa dikembangkan dari karyaku. Aku percaya suatu saat mereka pasti menemukan gaya ekspresinya sendiri,” ujar Dolo, yang kemudian berinisiatif melakukan rotasi dengan pengajra lain, supaya mahasiswanya lebih kaya dalam bentuk ekspresi, gaya dan pemikiran. “Mungkin suatu saat aku kembali, supaya jejak itu bergulir.”
Mantan Dekan Fakultas Seni Rupa IKJ (1991-2001) dan penasihat Dewan Tata Kota dan Pertamanan DKI (2005) ini, sekarang lebih suka berada di Studio Somalang – Somalang adalah nama orang Batak pertama yang terekspos ke dunia Barat. Orang Batak menyebutnya ‘Guru Somalang’, sebagai ikon dunia pengetahuan Batak – di atas lahan lumayan luas di Pondok Gede, Jakarta TImur, yang merupakan hadiah dari ayahnya. “Ayah mengijinkan aku menempati lahannya di sini, adalah bentuk suportnya yang terbesar buat aku,” ujar Dolo yang mengaku lebih senang mengenakan sarung bila sedang bekerja ini.
Rupanya, dengan berbagai penghargaan dan kerja kerasnya, Dolo yang juga mengajar wanita-wanita ekspatriat di studionya itu, tak perlu lagi memberi penjelasan pada sang ayah tentang pilihan hidupnya sebagai seniman.
“Inilah pekerjaanku setiap hari, mencipta dan berkarya,” kata Dolo, yang mengaku bahwa yang ia kerjakan tidak semua berhasil. Banyak juga yang baru setengah jadi. Yang jelas, wanita yang kalau bekerja tidak tergantung mood, melainkan pada intensitas kerja dan tingkat kesulitan sebuah ide ini, senang melihat banyak orangtua yang ingin anak perempuannya sekolah seni.
“Yang aku nggak tahu, jumlah perempuan yang bersekolah seni sudah meningkat,” katanya. Ia menganggap profesinya sebagai alat komunikasi untuk bisa menyuarakan perubahan kepada orang lain. “Yang aku harapkan, pada suatu saat mereka punya peran penting dalam sejarah perkembangan seni rupa modern dan di tengah masyarakat,” harap Dolo, yang pertama kali berpameran tunggal pada 2001 di Galeri Nasional, Jakarta, bertajuk “Habe you seen a sculpture from the body”. Kemudian yang kedua pada 2003, bertajuk “Via Dolorosa” di Galeri Nadi, Jakarta.
Maka, perempuan yang sellau berkebaya modern dan celana panjang bila menghadiri undangan resmi ini, ingin agar pemerintah concern terhadap pendidikan kesenian. “Seringkali kebijakan ini dianggap tidak begitu penting karena pandangan mereka terhadap kesenian itu ‘sejarah’. Menurutku tidak harus berhenti di situ. Kita punya sejarah atau warisan kesenian yang begitu tinggi dan hebat, tapi mandeg,” tukas Dolo, yang sejak 1998, sebualn sekali mengadakan diskusi budaya yang ia namakan “Diskusi Bulan Purnama”.
“Pemerintah sangat minim memberikan perhatian pada sektor ini dibanding pembangunan ekonomi atau yang lain. Padahal sebetulnya melalui kesenian banyak nilai yang bisa disampaikan kepada generasi yang sedang tumbuh. Banyak hal yang bisa memperluas wawasan ketika dia memahami kesenian, ketika dia besar bersama kesenian. Orang hidup adalah proses belajar menjadi manusia sampai mati,” tutur pemakai parfum Channel no.5 ini.
Pertalian keluarganya yang sangat erat, ditambah falsafah hidup yang ditanamkan orangtuanya sejak kecil – Bukalah pintu rumahmu dan berilah tumpangan kepada orang lain. Jadikanlah rumahmu untuk semua orang – membuat rumah Dolo yang satu halaman dengan studionya, menjadi pos tempat teman-teman Dolo berkumpul.
“Rumahku adalah rumah semua orang. Rumah tempat orang pulang dan pergi,” katanya.
Rini Clara
Foto: Nur Haryanto
Dimuat di majalah d’Maestro edisi Juni-Juli 2006
Komentar
Posting Komentar